WANITA BERKUDA ( Masa Kecil )
WANITA BERKUDA
AWAL HIDUPKU
Tidak ada yang berani memasuki kawasan yang masih dianggap oleh masyarakat sebagai tempat keramat atau menjadi pusat pemerintahan. Hal itu sudah menjadi adat sampai saat ini. Jauh sebelum listrik di temukan, dan bahkan masih banyak berdiri pepohonan yang amat rimbun dan besar, dia hidup diantara kerasnya zaman. Tapi mungkin dia adalah anak kecil perempuan yang sangat bandel yang memberanikan dirinya menantang kata keramat. Dia teman tak kasat ku yang kupanggil dengan Sri, dan ini adalah kisah tentangnya
Terlahir dari salah satu kelarga yang memiliki kasta kehormatan bukanlah hal yang mudah, banyak hal yang menjadi pantangan serta beberapa ada yang tabu. Aku lahir di sekitar daerah dengan sejuta mata airnya, di sekitar mata air sungai di pulau Jawa sebelah timur. Keluarga ku sangat tekun dalam beribadah sesuai dengan kepercayaan yang berkembang saat itu. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap anak tertua dari kasta pemuka agama akan mewarisi aturan-aturan yang menjadi dasar mereka berpola hidup. Dan, begitu juga denganku walaupun aku sendiri seorang anak perempuan.
Aku adalah 3 bersaudara, perempuan,laki-laki,perempuan dan aku adalah yang paling tua. Kalian bisa memanggilku Roro Anju, dan Kebo Mas, serta Roro Dandung. Seperti menjadi kegiatan yang rutin ketika para ibu sedang mencari bunga untuk sembahyang kami turut serta dalam kegiatan tersebut. Dengan memakai pakaian seperti anak yang akan diruwat. bosan sih sebenarnya, tapi ya mau gimana lagi. Mau rasanya mengenakan atribut seperti seorang perwira tapi kasta kami juga memiliki peran penting. Sesekali aku mengkhayal menjadi seperti itu.
Pagi ini seperti biasa, keluargaku harus segera bergegas menuju punden desa untuk mempersiapkan ritual sembahyang pagi kami. Kami para perempuan segera membuat banten untuk upacara dan mengambil bunga-bunga dari hutan sekitar desa. Belum sampai matahari menampakkan wajahnya kami para kasta yang ditinggikan harus segera membuka persembahyangan, dan berakhir dengan suara lesung yang ditabuh oleh para isteri petani.
Sembahyang pagi pun dimulai
Setelah sembahyang di laksanakan kami para perempuan segera mengambil tugas di dapur untuk memasak. Biasa kami memasak bersama dan menyantap masakan bersama, pagi ini kami memasak umbi-umbian yang baru kami panen dari kebun sendiri. Rasanya sangat bahagia mampu memasak bersama sambil bersenda gurau. Karena kami seorang Brahmana kami tidak mau memakan daging dan sejenisnya. Seperti yang orang awam tau.
Bagi para lelaki mereka akan di wejang di pusat atau di Bale Agung untuk mewarisi ilmu dari Tetua kami. Entah siapa atau bagaimana aku yang seorang perempuan ini setelah memasak di panggil oleh ibuku untuk mengikuti wejangan. Sempat tersentak kaget, aku kan seorang wanita. Walaupun aku yang tertua di keluarga tapi aku memiliki adik laki-laki. Karena tidak semua dari kami akan memimpin upacara persembahan.
Segera aku di ajak ibu ke sebuah sendang kamulyan untuk menyucikan diri, sebelum masuk dalam bale Agung tempatku mendapatkan ilmu kerohanian. Dengan di bawakan sebuah kain putih seperti yang di kenakan oleh kaum ku, aku perlahan menurut saja.
Selesai melakukan penyucian segera aku bergegas menuju Bale Agung, tidak mudah sebenarnya menjadi seorang pemuka Agama. Banyak syaratnya, melelahkan.
Wejangan pertamaku pada hati itu adalah tentang konsep Keheningan Batin, dan karena aku adalah murid baru, sebelum ilmu berikutnya aku terima aku harus melakukan atau menjalankan syarat berupa penyucian diri, serta berpuasa selama jangka waktu tertentu.
Puasa pertama pada Wuku ini bagiku sangatlah berat terlebih ini menginjak musim paceklik, terlebih kami harus siap membantu melakukan upacara meminta turun hujan. Aku dan beberapa kawan ku dengan di dampingi oleh Ibuku pergi mencari angin segar di sendang sebelah selatan desa. Tanpa sengaja kami bertemu dengan seorang bangsawan yang sedang berada di hutan sekitar desaku.
"Salam Brahmana, saya ingin meminta izin untuk mencari sebuah ketenangan"
"Tidak ada halangan bagi siapapun untuk mencari ketenangan dalam hatinya,. yang memberi batasan sebenarnya adalah cara kita mewujudkannya wahai junjunganku."
Melihat seorang ksatria gagah perkasa berada di depan mata adalah sebuah hal yang jarang bagiku, seakan aku berkhayal aku ingin bebas dari ikatan ini dan menjadi seperti dia, walau aku seorang wanita. Kami pun segera meninggalkan ksatria tersebut dan berjalan menuju tujuan kami, mencari kesegaran di sendang.
Komentar
Posting Komentar