Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Ku Peluk Lentera Tuk Kembali

                         Ku Peluk Lentera Tuk Kembali Tuhan...?  Mati lampu dini ini Walau dia telah kembali Ya Rabb..  Dingin ini semakin menusuk Walau telah dibawanya Selimut  Semakin hari semakin sunyi Hanya suara jedug jedug yang menggema Walau banyak di bangun dengan megah Eehhh.. Ehh.. Eehh..  Mati lampu semakin larut  Biar kupeluk lentera tuk kembali, Walau sendiri  Menuju pulang Sang Kekasih  Langgar Pojok, 2017 Lewat Tengah Dini

Senja

                            SENJA Ketika deru angin mengetuk Diantara pelukan Sang Awan Terhentak sukma terjadi Bahwa teringat Sang Fajar Yang mulai pulang keperaduan Bersama itu kulepas dirimu Sang kekasih Awan Yang sempat menghiasi diantara indahnya Senja Harusnya waktu berbicara sedikit lama lagi Yang akan mengetuk dua pintu Pintu antar hati ke hati Antara Sang Awan dan deru angin Bukan waktu Sang Senja yang menghampiri Namun juga bukan salah datangnya Awan

WANITA BERKUDA ( Masa Kecil )

WANITA BERKUDA  AWAL HIDUPKU Tidak ada yang berani memasuki kawasan yang masih dianggap oleh masyarakat sebagai tempat keramat atau menjadi pusat pemerintahan. Hal itu sudah menjadi adat sampai saat ini. Jauh sebelum listrik di temukan, dan bahkan masih banyak berdiri pepohonan yang amat rimbun dan besar, dia hidup diantara kerasnya zaman. Tapi mungkin dia adalah anak kecil perempuan yang sangat bandel yang memberanikan dirinya menantang kata keramat. Dia teman tak kasat ku yang kupanggil dengan Sri, dan ini adalah kisah tentangnya

Kisah Merpati

Kisah Merpati Katamu aku merpati Katamu aku tak terbelenggu Katamu juga aku dan kita Aku Merpati Belang Putihku tak seindah miliknya itu katamu, Aku terbang tak ikat Pergi jauh ke Antariksa itu pintamu, dan, Aku juga merpatimu itu pintamu Kau tak pernah memaksa Kau tak pernah memarahi Kau takkan pernah Namun,  Kiasan begitu mudah orang lain fikir Tanpa mengetahui asli dekap peluk panas Merpati itu tak sebebas ilalang yang menari Merpati itu tiada kini Biar imajinasi merpati yang menghiasi awan yang berjalan menuju senja tak bertuan kini

Pupus

Pupus Seribu untaian kata tlah kau suratkan padaku Milyaran lagu telah engkau dendangkan hanya untukku dan, mengapa begitu mudah hatiku untukmu Awan yang berarak seakan bercerita, Indah senyum mentari seakan menyertai pula. Taman nan indah, Jalan terjal, dan pohon tumbang begitu mudah kita lalui Namun,  Badai kecil yang menghempas kata KITA Rintik yang menghapus lirik lagu yang kau tulis  Embun pagi yang seakan menghapusnya. Hanya itu saja, Lalu Mengapa kini terjadi? Surat itu kan aku simpan  Dalam buku cerita indahku dan, Takkan mudah aku melewatkannya.

Aku (2)

Aku tak sadar, Setiap roda yang kukayuh, Sejauh itu aku menyusuri dunia. Begitu juga kini, Semua lagu yang ku lagukan, seperti tak kan pernah sempurna. Kukayuh sepedaku pulang menuju ufuk timur Bapak Hari, jangan kau tutup matamu menjelang nyanyi ayam desa seberang Aku duduk memegang perut, sambil bersendawa. Ahhhhh, legaaa Namun, Begitukah arti lega? Ibu dan Ayah semakin tua. Apakah aku hanya bisa mengayuh sepeda saja? Bagaimana kalau membuat portal Waktu?

Biar Hitam Berkata Hitam

Biar Hitam Berkata Hitam Bila berat mengayuh sampan, Bila lelah mendaki bukit, Bersandarlah disini, gubuk damai dalam kabut Jauh sudah kau berjalan mengelilingi sekepal bola berputar Aku tau engkau lelah, maka, bersandarlah disini,,   Glacong Jangan berlari sendiri, Glacong ! Kita masih ada untuk menutupi perihmu Buatlah hatimu menari dengan senyum yang merekah Cukup!!! Glacong Semua punya mata, Hati orang mana kita tahu? Mentari esok kan bersinar lebih cerah. Biar hitam ini berteriak sekerasnya, biar engkau jatuh sekarang Sebelum semua terlalu tinggin, hingga sakitnya jatuh tak terlalu menyakiti TULUNGAGUNG,0127 TERAM 12

Cerita Bunga Dasar Biru

Gambar
Cerita Bunga dasar Biru

Pengertian Blog - Pembahasan 1 - Blog

Gambar
Menampilkan Video Dalam Blog (Tugas TIK) Terimakasih kepada : Rizal Firdaus ( http://erzetel.com )

Tanpa Sepatah Kata

Tanpa Sepatah Kata Malam ini terlalu cepat bergulir. Hingga menjatuhkan kita berdua. Dalam sebuah bara api Kita terbakar, dan kita hanya mampu saling memandang Seperti itu kini engkau dan aku. Duduk sebentar saja mungkin tak mungkin Secangkir kopi tak mungkin menghangatkan lagi Sebentar, duduklah ! Seperti waktu yang berputar, kayuhanmu semakin cepat berlalu dari padang nyata Jejakmu tak mampu melepaskan maksud hatimu Tanpa sepatah kata kita berdua saling menghindar Tanpa sepatah kata kita berlalu dan lenyap

Menampilkan File Presentasi

Cantik (yang Tersenyum dalam Kabut)

Gambar
Bunga Krisan (Seruni) https://www.instagram.com/p/BQseF3vDMeO/?taken-by=nugroho_chrisnaw

Pengertian Blog

Pengertian Blog  Blog merupakan singkatan dari web log yaitu bentuk aplikasi web yang diwujudkan melalui tulisan-tulisan artikel yang ditampilkan sebagai posting pada halaman web. Fungsi Blog Ditinjau dari fungsinya, Blog memiliki fungsi yang beragam, mulai dari catatan harian,  media publikasi hingga kampanye untuk berbagai kepentingan bisnis, sosial, ekonomi, dan politik.  Ditinjau dari kontennya,  blog menampilkan posting dalam urutan terbalik,  artinya posting terbaru ditampilkan di bagian atas sedangkan posting Sebelumnya ditampilkan di bawahya.  Selain posting,  blog juga di lengkapi dengan sidebar  yang menampilkan beragam widget atau gadget seperti kalender, petunjuk waktu, lirik,  slide show,  dan lain-lain 

Sajak Dalam Gejolak

Sajak Dalam Gejolak Untailah sajakmu, Sajak manja dan halus, Dalam kalbu yang bergejolak Percayalah Dia Kan Menjawab dan membawa sajakmu ke dalam dekapNya. Untailah tetap, dan selalu. Dan dalam diam selalu tutuplah buku itu

Berdiri Diatas Kaki

Cukup bagi kita yang melangkah dengan kaki sendiri Cukup sudah! Hina kami Caci kami BUANG KAMI Tetap kan ku pegang nama ini. Dan,  tak usah membanting pintu kami kan pergi Karena kami, yang berdiri diatas kaki sendiri Hanya kami, sendiri Dan biar tetap SENDIRI Diatas kaki kami sendiri

Pantaskah

Pantaskah?  Pantaskah kini Sang Fajar menyingsing?  Pantaskah?  Menyapa lembut lewat senyuman?  Pantaskah Tidak Sang Fajar terlalu cepat memberi guratannya Fajar terlalu cepat membawa embun ini kembali  Fajar terlalu cepat mengembalikan  Kembali sudah engkau Yang datang datang dan pergi  Pantaskah?  Pantaskah tetap mengharapkanmu kembali?